Surat Muhammad SAW Untuk Pendeta Nasrani di Biara Santa Katarina Gunung Sinai

Di kaki Gunung Sinai, di lokasi yang merupakan tempat suci agama Yahudi, Kristen dan Islam, berdiri salah satu biara tertua yang masih berfungsi saat ini, yaitu Biara Santa Katarina.

Pendirian biara ini dimulai pada tahun 337 Masehi, ketika Ratu Helena, ibu dari Kaisar Konstantinus, memprakarsai pembangunan sebuah gereja di lokasi yang diyakini sebagai tempat Nabi Musa melihat api dari semak duri yang tak terbakar.

Pengembangannya dilakukan oleh Kaisar Justinus antara tahun 527-565 Masehi dengan membangun Basilika Transfigurasi, sehingga namanya menjadi Biara Transfigurasi. Namun, sejak abad ke-9 Masehi menjadi terkenal sebagai Biara St. Katarina dari Alexandria oleh sebab kehadiran relik sang martir di situs itu.

Biara ini tidak hanya menyimpan ribuan manuskrip abad silam dan karya seni Kristen yang mengagumkan, tetapi juga sebuah surat dari nabi junjungan dan pemimpin umat Islam.

Surat yang ditulis tahun 623* Masehi ini berisi tentang perintah Nabi Muhammad untuk menghormati dan melindungi hak asasi dan kebebasan beragama umat Kristen.

Surat Nabi Muhammad SAW Untuk Pendeta Nasrani Biara Santa Katarina Gunung Sinai

Kutipan Bahasa Inggris dan terjemahan dari surat itu:

“This is a message from Muhammad ibn Abdullah, as a covenant to those who adopt Christianity, near and far, we are with them.
Ini adalah pesan dari Muhammad bin Abdullah, sebagai sebuah perjanjian dengan mereka yang memeluk agama Kristen, baik yang dekat maupun yang jauh, kami bersama dengan mereka.

Verily I, the servants, the helpers, and my followers defend them, because Christians are my citizens; and by Allah! I hold out against anything that displeases them.
Bahwasanya aku, para pelayan, penolong, dan pengikutku membela mereka, karena orang-orang Kristen adalah rakyatku; dan demi Allah! Aku menentang apapun yang tidak menyenangkan mereka.

No compulsion is to be on them.
Tidak boleh ada pemaksaan terhadap mereka.

Neither are their judges to be removed from their jobs nor their monks from their monasteries.
Para hakim mereka tidak boleh diberhentikan dari pekerjaan mereka, dan para biarawan tidak boleh dikeluarkan dari biara mereka.

No one is to destroy a house of their religion, to damage it, or to carry anything from it to the Muslims’ houses.
Tidak boleh ada seorang pun yang menghancurkan tempat ibadah mereka, atau merusaknya, atau memindahkan apapun dari situ ke rumah kaum Muslim.

Should anyone take any of these, he would spoil God’s covenant and disobey His Prophet.
Jika ada yang melakukan hal-hal ini, ia melanggar perjanjian Allah dan tidak mematuhi Rasul-Nya.

Verily, they are my allies and have my secure charter against all that they hate.
Bahwasanya, mereka adalah sekutuku dan dengan mereka aku menetapkan perjanjian yang kuat melawan semua yang mereka benci.

No one is to force them to travel or to oblige them to fight.

Tidak ada seorang pun yang memaksa mereka pergi atau mewajibkan mereka untuk berperang.

The Muslims are to fight for them.
Muslimlah yang akan berperang bagi mereka.

If a female Christian is married to a Muslim, it is not to take place without her approval. She is not to be prevented from visiting her church to pray.
Jika seorang perempuan Kristen dinikahkan kepada seorang Muslim, hal itu tidak boleh terjadi tanpa persetujuannya. Ia tidak boleh dilarang pergi ke gerejanya untuk berdoa.

Their churches are to be respected. They are neither to be prevented from repairing them nor the sacredness of their covenants.
Gereja-gereja mereka harus dihormati. Mereka tidak boleh dicegah dari memperbaiki gereja-gereja itu, ataupun dari kesucian perjanjian-perjanjian mereka.

No one of the nation (Muslims) is to disobey the covenant till the Last Day (end of the world).”
Tidak boleh ada umat Muslim yang tidak mematuhi perjanjian ini sampai Hari Terakhir (kiamat).”

 

====

Menurut tradisi, sebuah delegasi dari Sinai memohon perlindungan dari Nabi Muhammad. Hal ini dikabulkan dan sebuah surat ditulis serta disahkan dengan menaruh tangannya di atas dokumen itu.

Pada tahun 1517, Sultan Selim I, dengan mengakui isi dokumen itu, membawanya untuk disimpan dalam perbendaharaan istana di Konstantinopel. Ia pun memberikan salinan untuk disimpan di biara St. Katarina, yang turut disertai gambaran telapak tangan sebagai lambang bahwa dokumen itu disahkan oleh Nabi Muhammad.

Dokumen ini sekarang disimpan di Museum Topkapi di Istambul, Turki.

Biara St. Katarina, yang merupakan salah satu dari situs warisan dunia, merupakan rumah dari manuskrip Alkitab, Kodeks Sinaitikus (ditulis 330-350 Masehi), yang saat ini disimpan di British Library.

Di dalam St. Katarina juga terdapat Mesjid Fatima yang baru-baru ini direnovasi. Bangunan ini merupakan sebuah kapel yang berubah fungsi menjadi mesjid pada tahun 1106 dan tepat berdiri di samping gereja Ortodoks, sehingga minaretnya berdekatan dengan menara lonceng gereja.

Mesjid ini menjadi lambang perlindungan dari para kalifa Mesir, termasuk toleransi dari para biarawan terhadap Islam. Penduduk lokal Beduin, Jabaliya, secara turun-temurun memegang kunci mesjid ini.

Iklan

Cara Menggunakan WhatsApp Tanpa Verifikasi Nomor HP

Menjadi salah satu aplikasi chatting paling populer, WhatsApp memang tergolong sukses memberikan layanan terbaik bagi penggunanya lewat kemudahan dan berbagai fitur menariknya. Bahkan, pengguna aktifnya sendiri tercatat bisa mencapai 1 milyar di tiap harinya.

Sayangnya, masih ada orang-orang yang ngerasa insecure menggunakan WhatsApp. Hal itu disebabkan aplikasi ini menuntut penggunanya menggunakan nomor HP sebagai alat verifikasi dan kemudian digunakan untuk bertukar kontak.

Padahal gak sedikit orang yang ingin menggunakan WhatsApp untuk sekedar chatting tanpa harus nomor HPnya yang terbilang private diketahui orang lain.

Tenang aja, jika kamu termasuk dalam salah satu tipe orang di atas, Jaka punya solusi guna menjawab kekhawatiran kamu.

Jaka akan kasih kamu tips yaitu cara mengaktifkan akun WhatsApp tanpa harus verifikasi menggunakan nomor HP. Ada tiga cara atau metode yang akan Jaka bagikan, tapi pertama-tama tentunya kamu harus menginstal terlebih dulu aplikasi WhatsApp itu sendiri.

Untuk kamu yang sudah terlanjur menginstal dan ingin membuat akun ulang tanpa nomor HP, berarti kamu harus menghapusnya terlebih dulu lalu menginstalnya lagi.

Berikut tiga cara mengaktifkan akun WhatsApp tanpa verifikasi nomor HP:

1. Instal WhatsApp dan Verifikasi dengan Nomor Palsu

  • Instal aplikasi TextNow
  • Setelahnya, kamu akan dapat nomor dari aplikasi tersebut.
  • Gunakan nomor itu untuk verifikasi akun WhatsApp.
  • Tenang aja, verifikasi pasti akan gagal karena nomor tersebut gak bisa menerima SMS verifikasi.

cara-1

  • Setelah muncul seperti gambar di atas, tekan “Call Me”.
  • Kamu akan menerima telepon dari operator yang ngasih tau kode verifikasi.
  • Akun WhatsApp kamu selesai dibuat.

2. Instal WhatsApp Tanpa Verifikasi dengan Aplikasi Fake Messenger

  • Kamu butuh aplikasi perpesanan palsu untuk melakukan metode yang kedua. Ada beberapa pilihan misalnya Spoof Text untuk kamu pengguna Android, atau Fake-a-message bagi pengguna iOS.
  • Install: Spoof Text
  • Kirimkan SMS berisi alamat email kamu ke nomor +447900347295.
  • Kamu kemudian akan mendapat kode verifikasi untuk mengaktifkan akun WhatsApp kamu.
  • Masukkan kode tersebut dan akun WhatsApp kamu selesai dibuat.

3. Instal WhatsApp dan Verifikasi dengan Nomor Darurat

  • Pertama-tama, cabut dahulu SIM Card dari smartphone kamu.
  • Setelah sampai ke bagian verifikasi, abaikan opsi verifikasi menggunakan SMS.

cara-3

  • Setelah muncul seperti gambar di atas, pilih “Call Me“.
  • Kamu akan mendapat kode verifikasi ke nomor darurat dan akun WhatsApp kamu selesai dibuat.

Akhir Kata

Itulah tiga cara atau metode yang bisa Jaka bagikan tentang gimana cara mengaktifkan akun WhatsApp tanpa harus verifikasi dengan menggunakan nomor HP. Kamu bisa pilih salah satu yang menurutmu paling mudah. Selamat mencoba!

 

Membangun Engagement di media sosial

https://blog.gdilab.com/wp-content/uploads/2017/07/laptop-mobile-750x410.jpg

Dalam dua tulisan sebelumnya kita membahas tentang jenis media sosial dan persiapan yang perlu diperhatikan untuk mengelolanya.

Salah satu hal penting dalam persiapan pengelolaan yang dibahas adalah menentukan ukuran performa akun yang dikelola di media sosial.

Gampangnya sih mengukur jumlah pengikut.

Hari pertama akun kita diikuti 2 pengguna; hari kedua bertambah jadi 5 pengguna. Lalu sepekan setelahnya akun kita sudah diikuti 10 pengguna.

Apakah berarti akun kita memiliki performa baik di media sosial?

Belum tentu.

Ada ukuran lain yang tak kalah penting, bahkan mungkin lebih perlu diperhatikan ketimbang sekadar pertumbuhan jumlah pengikut.

Yaitu: jumlah interaksi terhadap konten akun yang dikelola, atau lebih akrab dikenal sebagai bobot engagement.

Engagement dalam pengertian simpel berarti komunikasi dua arah.

Komunikasi dua arah dalam studi komunikasi juga dikenal sebagai komunikasi interaksional, yang dilontarkan Wilbur Schramm pada 1954.

Intinya: Komunikasi berlangsung dari pengirim pada penerima, lalu penerima pada pengirim, secara bergantian.

Kunci dari komunikasi interaksional ini adalah umpan balik (feedback) atau tanggapan terhadap pesan, karena membuat pengirim pesan mengetahui respon terhadap pesannya.

Pentingnya feedback ini juga diungkapkan praktisi pemasaran daring dan penulis beberapa buku tentang media sosial, Jason Falls, lewat artikel tentang engagement di media sosial pada 2012.

Ia menyebutkan bahwa hasil komunikasi yang baik adalah jika audiens memberikan perhatian atau respon.

Dan dalam media sosial, umpan balik, respon, atau perhatian itu merupakan nyawa layanan yang menjelma ke dalam bentuk fitur respon, seperti ruang komentar (comment), tanda suka (like), atau pilihan menyebarkan konten (share).

Hasil komunikasi yang baik adalah jika audiens memberikan respon.

Terkait hal itu, ahli statistik internet dan penulis asal India, Avinash Kaushik, pernah menulis bahwa fitur interaksi media sosial terbagi menjadi 3 (tiga) kategori:

  1. Konversasi (conversation): Aktivitas percakapan di antara pengguna.
  2. Amplifikasi (amplification): Aktivitas penyebaran atau perluasan pesan.
  3. Aplaus (applause): Aktivitas respon singkat dengan ikon tertentu.

Lewat banyak artikel lain tentang komunikasi daring (online) yang merujuk pada pandangan Avinash Kaushik, ketiga kategori itu bisa memandu kita untuk mengukur nilai engagement dalam kegiatan di media sosial.

Apalagi, tiga kategori itu seolah memang jadi poros utama fitur pada layanan media sosial, seperti contoh pada tabel berikut ini:

Kategori Facebook Twitter YouTube Instagram Linkedin
Konversasi Comment Reply Comment Comment Comment
Amplifikasi Share Retweet Share Send To Share
Aplaus Like Like Like Like Like

Mengukur ketiga elemen ini bisa jadi lebih penting dari sekadar pertumbuhan jumlah pengikut (Follower) di media sosial.

Bagaimana cara mengukurnya?

Contoh saja: Dalam 1 (satu) bulan, akun yang dikelola mendapatkan 5 komentar, 5 share, dan 5 tanda suka; maka bobot engagement-nya adalah 15. Kian banyak respon yang diberikan, maka semakin bagus pula media sosial itu dikelola.

Bobot itu bisa juga dibandingkan dengan jumlah konten, pengikut, atau jangkauan, menjadi rasio interaksi (engagement rate); tergantung kebutuhan pengelolaan. Kita akan membahas tentang engagement rate ini dalam tulisan terpisah.

Yang jelas mengukur aktivitas pengguna lain terhadap akun yang dikelola ini penting dan lebih bermakna.

Bayangkan saja, memiliki 10 pengikut dengan nilai interaksi tinggi, tentu lebih baik dan menyenangkan ketimbang 30 pengikut yang tak pernah merespon pesan yang disampaikan.


Kesimpulan:

  • Salah satu hal penting dalam pengelolaan media sosial adalah melakukan pengukuran terhadap performa aktivitas di media sosial.
  • Selain jumlah pengikut, lebih penting juga mengukur engagement atau interaksi yang dihasilkan dari pengelolaan media sosial, karena kelebihan layanan media sosial terletak pada partisipasi penggunanya.
  • Salah satu cara mengetahui bobot engagement dari kegiatan media sosial adalah dengan mengukur dan mencatat nilai konversasi, amplifikasi, dan aplaus terhadap konten yang dimuat.