Tragedi Waisak di Candi Borobudur 2013

13695479942112574365

Saya bersyukur saya tidak mengikuti prosesi Waisak semalam. Melihat kicauan teman-teman tentang keriuhan Waisyak sepanjang perjalanan Jakarta – Garut tadi malam membuat saya kembali miris dan sedih. Apa yang saya tuliskan tahun kemarin kembali terulang lagi dan (mungkin) lebih parah. Apa sekarang memang era dimana sebuah perayaan agama menjadi tontonan wisata?

Mari berpikir, adalah hak setiap orang beragama untuk menyelenggarakan ibadahnya di Indonesia. Jadi pilihan umat Budha untuk merayakan Waisak yang merupakan hari besar mereka di Borobudur adalah hak mereka, hak asasi paling asasi. Borobudur yang merupakan simbolisme kejayaan Budha di Indonesia memang sangat pas untuk tempat mereka melaksanakan upacara Waisak. Borobudur adalah tempat suci umat Budha dan mereka beribadah di tempat suci bagi mereka, apakah itu salah?

Saya yang semasa kecil turut menikmati keriaan Waisak terheran-heran ketika 2 tahun ini mendadak Waisyak menjadi heboh dengan segala persoalannya. Dulu di era 90-an, Waisyak itu sangat sakral, bahkan kalau dibandingkan sekarang cenderung sepi. Pengamanan Waisyak cenderung ketat, mendadak ada Tentara dan Polisi berjaga. Jalan menuju Mendut dan Borobudur sudah ditutup mulai dari Palbapang (7 km dari candi) sejak H-1. Semua kendaraan yang akan melalui palbapang di sweeping, kendaraan umat Budha silakan masuk, selain itu haram. Ini persoalan bagi penduduk desa saya yang harus melalui palbapang, penduduk desa saya bisa masuk setelah melalui pemeriksaan KTP dan menunjukkan domisilinya. Jika tidak ya tidak bisa lewat atau harus memutar lewat Blabak atau jalan tikus lainnya.

Dahulu era 90-an Waisak memang perayaan semua orang, warga desa di sekitar Borobudur berbondong-bondong takjub melihat arak-arakan dari Mendut ke Borobudur menyemut memenuhi jalanan. Dulu Waisak dianggap sebagai sebuah upacara yang menarik secara kultural bagi warga  Magelang, bukan objek turisme. Warga desa tak jarang harus berjalan kaki berkilometer jauhnya menuju Borobudur untuk turut mengikuti ritual dan keriaan Waisak, hal ini lazim setiap tahun seperti yang dilakukan oleh warga desa saya. Beberapa warga desa bahkan menganggap mengikuti Waisak sebagai ngalap berkah, ada yang meminta air suci, mengambil dupa atau bahkan khusyuk mengikuti ritualnya walaupun bukan penganut Budha.

Ritual Waisak di Borobudur itu universal. Banyak aliran dan sangha berkumpul menjadi satu di Borobudur. Ini sudah terjadi sejak dulu. Di masa kecil, saya digendong bapak menonton arak-arakan ini di Borobudur, saya takjub dengan baju-baju penganut Budha yang beraneka ragam, bhiksu-bhiksu yang datang dari berbagai negara tetangga, umat Budha pribumi yang datang dari lereng-lereng gunung di Magelang, Temanggung dan Wonosobo, bhiksu yang bule sampai bhiksu – bhiksu Jepang sampai orang-orang Tionghoa dengan baju merah-merahnya. Inilah yang membuat waisyak secara kultur menarik, banyak sangha, banyak aliran semua memusatkan hari raya-nya di Borobudur.

Warisan kultural ini menjadi menarik ketika toleransi antara penduduk lokal dengan para umat Budha ini berlangsung amat cair. Dari cerita-cerita ibu dan paman saya, dulu menjelang Waisak banyak Bhiksu-bhiksu itu banyak yang berlalu lalang di Muntilan dan Magelang. Penduduk desa juga secaara sukarela menyediakan rumahnya untuk menginap bhiksu dan umat budha lainnya. Masyarakat sekitar Borobudur turut menyambut saudara-saudaranya yang ingin merayakan hari rayanya. Bahkan ada sinkronisasi Budaya dalam rangkaian acara, ada semacam pengobatan gratis dari Walubi adalah semacam ucapan terima kasih kepada penduduk sekitar Borobudur yang sudah menyambut mereka.

Tapi itu dulu, sekarang judulnya lain lagi. Waisak sudah bergeser menjadi pertunjukan wisata dan kemudian lambat laun menjadi objek turisme, turisme yang sekarang menggejala tak terkendali dan liar. Pun banyak yang mengingatkan tapi tetap banyak yang lupa diri. Banyak yang menganggap bahwa Waisak adalah ritual yang menarik untuk ditonton, masifnya turis yang datang mungkin tidak diimbangi dengan pengamanan yang saya rasa sekarang semakin longgar, mungkin karena tak kuasa dengan banjirnya pengunjung yang datang. Banjirnya pengunjung yang datang saya kira sebelumnya harus diantisipasi dengan benar oleh penyelenggara.

Pengunjung yang menyemut tentunya bukan masalah, tapi jika sampai mengganggu orang yang beribadah tentunya dia bersalah karena mengganggu orang yang sedang beribadah, melanggar hak beribadah. Saya kira pengunjung yang datang semuanya harus memaknai itu, memaknai bahwa Waisak adalah ritual agama, sedang beribadah. Bagi pengunjung yang sudah memahami itu saya kira merekalah pengunjung yang beruntung, pengunjung yang bisa memaknai dengan benar apa arti Waisyak dan tak sekadar hanya terpikat dengan ritual di ujung berupa pelepasan lampion. Bukan sekedar pengunjung yang haha-hihi jepret kanan jepret kiri.

Riuh rendah Waisak ini bahkan sudah lantang beberapa bulan sebelum acara, di beberapa grup pejalan yang saya ikuti semua sudah tampak antusias. Beberapa kali melakukan counter opinion untuk mengingatkan bahwa Waisak adalah perayaan ritual keagamaan, tapi tampaknya tak ada hasilnya, tenggelam dalam antusiasme perayaan Waisak yang hanya dimaknai dari pelepasan lampion. Gendheng – nya ada beberapa trip Waisak yang terang-terangan dijual, komersialisasi ibadah dan mengundang wisatawan mampir? Dengan berbagai alasan mungkin bagi logika saya terdengar menggelikan. Sebagai seorang muslim saya mungkin akan terasa aneh jika ada yang menjual trip misalnya:  “Trip 3 D 2 N, menikmati Ritual Idul Fitri di Istiqlal, bersalam-salaman dan Menikmati Opor Ayam hanya 1.500.000,oo” terdengar aneh bukan?

Saya kira jika kita menengok ke belakang, pengalaman pengamanan ketat di era 90-an, saya kira itu perlu. Pengamanan penting dilakukan untuk menjamin hak orang yang beribadah supaya tidak diganggu, ini adalah kewajiban negara untuk menjamin hak orang beribadah dan harus benar dan harus benar benar dilakukan oleh alat negara. Atau jikalah mau lebih tegas, adalah hak umat Budha untuk beribadah dan melarang yang non Budha untuk tidak turut serta. Itu mutlak prerogatif mereka bukan?

Permasalahan tidak berhenti disitu, akan ada banyak perdebatan yang tak kunjung usai bahkan setelah upacara Waisak dimulai. Entah salah siapa? di dunia maya banyak yang berpendapat, ada yang menyalahkan penyelenggara, ada yang menyesalkan panitia. Perdebatan ini tak henti mengalir di timeline, di facebook dimana-mana. Lalu saya berpikir kembali, saya kira permasalahan ini bisa selesai jika penonton menempatkan diri sebagai umat yang sedang beribadah, beribadah itu harus khusyuk karena itu wilayah teritorial seorang umat dengan penciptaNya.

Saya kira semua permasalahan ini harus dimaknai dengan tegas, Waisak adalah hari raya agama, Waisyak adalah waktu dimana umat Budha beribadah. Mengganggu hak beribadah mereka berarti anda melanggar hak asasi. Untuk permisalan karena saya muslim, jika sedang sholat, disenggol sedikit saja konsentrasi buyar, lha ini difoto dengan flash, banyak lagi flashnya. Bagi yang sudah mengerti saya kira harus turut mengingatkan yang belum mengerti. Bagi yang belum mengerti, jangan sewot jika dinasehati. Jika hak asasi sudah dilanggar, jika umat lain tidak menghormati lantas apa jadinya toleransi yang ramai didengungkan? Jika tak bisa menghormati hak asasi, lantas apa bedanya dengan ormas ormas tertentu yang bertindak sembarangan.

Banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi dan butuh kerjasama dengan berbagai macam pihak. Semoga ke depannya penyelenggara bisa memaknai ini sebagai masukan dan membuat Waisak adalah ritual keagamaan yang khidmat, khusyuk dan damai. Untuk itu saya tak hendak menyalahkan siapapun, tapi ada baiknya semua pihak melakukan koreksi, ya penyelenggara ya pengunjung. Bagi saya pribadi dari kacamata orang Magelang dan kacamata pengunjung, jika ingin turut menikmati ya silakan dengan catatan harus menghormati hak beribadah, jika tidak ya mending tidak usah datang daripada mengganggu dan meninggalkan sampah yang merepotkan.

sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2013/05/26/waisak-dan-persoalan-yang-tak-kunjung-usai-559370.html

2 thoughts on “Tragedi Waisak di Candi Borobudur 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s