Ternyata Multivitamin Tidak Berguna Bagi Tubuh, Malah Berbahaya

Ahli gizi yakin bahwa seluruh zat yang dibutuhkan oleh tubuh manusia sudah terkandung dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Di sisi lain, pihak industri yang disokong oleh sejarah yang mencengangkan, berargumen bahwa makanan tidaklah cukup sehingga kita membutuhkan suplemen untuk memenuhi kebutuhan tubuh.

Bingung? Anda tidak perlu khawatir.
Untung saja, banyak penelitian terbaru yang telah memecahkan isu ini.

Pada 10 Oktober 2011, para peneliti dari Universitas Minnesota menemukan bahwa wanita yang mengonsumsi suplemen multivitamin memiliki tingkat kematian yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak mengonsumsi suplemen tersebut. Dua hari kemudian, peneliti dari Klinik Cleveland menemukan fakta lain bahwa pria yang mengonsumsi Vitamin E memiliki peningkatan resiko untuk terkena kanker prostat. “Minggu ini merupakan minggu yang berat untuk vitamin,” ujar Carrie Gann dari ABC News.

Penemuan-penemuan ini bukanlah hal baru. 7 studi sebelumnya selalu menunjukkan bahwa konsumsi suplemen vitamin meningkatkan resiko kanker, penyakit hati serta umur yang pendek. Walaupun studi ini telah dirilis, lebih dari setengah penduduk Amerika Serikat masih mengonsumsi suplemen vitamin pada 2012. Yang disadari oleh sedikit orang adalah bahwa awal keterpesonaan mereka mereka terhadap vitamin bisa dirunut balik dari seorang pria pemenang 2 Penghargaan Nobel. Seseorang yang begitu benar hingga ia memenangkan dua Penghargaan Nobel dan juga begitu salah karena mungkin saja dia pembual terbaik.

Pada 1931, Linus pauling mempublikasikan studinya di Journal of the American Society yang berjudul “Sifat Dasar Ikatan Kimia” (The Nature of Chemical Bond). Sebelum adanya publikasi tersebut, ahli kimia mengenal 2 tipe ikatan kimia yaitu: ikatan ion, ikatan yang terjadi akibat satu atom melepas elektron ke atom lain; dan ikatan kovalen, ikatan yang terjadi ketika beberapa atom berbagi elektron (electron sharing). Pauling berargumentasi bahwa ikatan kimia tidaklah sesederhana itu – bahwa pembagian elektron berada diantara ikatan ion dan kovalen. Ide Pauling membuat revolusi di lapangan, menggabungkan fisika kuantum dengan ilmu kimia. Konsepnya sangat revolusioner sehingga ketika editor jurnal menerima naskah studi Pauling, editor tersebut tidak dapat menemukan orang yang kompeten untuk meninjau ulang karya itu.
Ketika Albert Einstein diminta untuk berpendapat mengenai studi tersebut, dia mengedikkan bahunya dan berkata, “Hal ini terlalu rumit bagiku.”


Linus Pauling

Dari studi ini, Pauling menerima Penghargaan Langmuir sebagai Ahli Kimia Muda Terkemuka di Amerika Serikat, menjadi orang termuda yang terpilih menjadi anggota Akademi Sains Nasional, menjadi profesor penuh waktu di Caltech, dan menerima Penghargaan Nobel dalam bidang kimia. Ketika itu, Pauling baru berusia 30 tahun.

Pada 1949, Pauling mempublikasikan sebuah studi di Science berjudul “Sel Sabit Anemia, Sebuah Penyakit Molekular” (Sickle Cell Anemia, a Molecular Disease). Di masa itu, ilmuwan mengetahui bahwa sel darah merah / hemoglobin (protein dalam darah yang membawa oksigen) mengkristal dalam pembuluh darah orang yang memiliki sel sabit anemia, yang menyebabkan sakit pada persendian, penggumpalan darah, dan kematian, namun mereka tidak mengetahui penyebabnya. Pauling adalah orang pertama yang mengetahui bahwa hemoglobin sabit memiliki perbedaan muatan elektris – faktor yang mempengaruhi reaksi hemoglobin dengan oksigen secara signifikan.

Penemuannya menghasilkan bidang baru, biologi molekuler.
Pada 1951, Pauling mempublikasikan sebuah studi di Proceedings of the National Academy of Sciences yang berjudul “Struktur Protein” (The Structure of Proteins). Ilmuwan saat itu mengetahui bahwa protein terdiri dari rangkaian asam amino. Pauling mengemukakan bahwa protein juga memiliki struktur sekunder yang ditentukan oleh cara mereka melipat diri. Dia menyebut konfigurasi tersebut sebagai alpha helix – yang kemudian digunakan oleh James Watson dan Francis Crick untuk menjelaskan struktur DNA.


Linus Pauling – The Structure of Protein

Pada 1961, Pauling mengumpulkan sampel darah dari gorila, simpanse dan monyet di Kebun Binatang San Diego. Dia ingin mengetahui jika pengaruh mutasi pada sel darah merah dapat digunakan sebagai jam evolusi. Pauling menunjukkan bahwa manusia mulai terpisah dari gorila sekitar sebelas juta tahun yang lalu, jauh lebih awal dari dugaan para ilmuwan. Seorang rekan kerjanya kemudian mengeluarkan pernyataan, “Melalui sebuah penelitian, dia menyatukan paleontologi, biologi evolusioner, dan biologi molekuler.”

Pencapaian Pauling tidak terbatas dalam bidang sains. Berawal pada 1950an – hingga 40 tahun kemudian – dia adalah aktivis perdamaian yang paling dikenal. Pauling menentang penawanan orang-orang Jepang-Amerika selama Perang Dunia II, menolak tawaran Robert Oppenheimer untuk bekerja di Manhattan Project, menentang Senator Joseph McCarthy dengan menolak sumpah kesetiaan, menentang pengembangan nuklir, mendebat secara terbuka pendukung senjata nuklir seperti Edward Teller, mendorong pemerintah untuk mengakui bahwa ledakan nuklir dapat merusak gen manusia, meyakinkan pemenang peraih Nobel lainnya untuk menentang Perang Vietnam, dan menulis buku laris berjudul No More War!. Usaha Pauling membuahkan Kesepakatan Larangan Uji Coba Nuklir (Nuclear Test Ban Treaty). Pada 1962, dia mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian – orang pertama yang memenangkan dua Penghargaan Nobel di bidang yang berbeda.

Selain terpilih di Akademi Sains Nasional, mendapat 2 Penghargaan Nobel, Medali Ilmu Pengetahuan Nasional dan medali jasa dari presiden Amerika Serikat, Pauling menerima gelar kehormatan dari Universitas Cambridge, Universitas London dan Universitas Paris. Pada 1961, dia muncul di halaman depan majalah Time edisi Pria Tahun Ini, dipuji sebagai ilmuwan terhebat yang pernah ada. Lalu seluruh hasil kerja keras, pemikiran dan penelitian yang membuat Linus Pauling sebagai legenda, menghilang. Koleganya berkata, “kejatuhannya semegah tragedy klasik”.

Titik balik itu terjadi pada Maret 1966, ketika Pauling berusia 65 tahun. Dia baru saja menerima Medali Carl Neuberg. “Pada sebuah wawancara di kota New York,” Pauling mengingat, “Aku menyebutkan betapa aku menikmati kegiatan membaca tentang penemuan-penemuan oleh para ilmuwan dalan berbagai investigasi mereka tentang dunia, dan mengatakan bahwa aku berharap aku dapat hidup 25 tahun lagi agar bisa terus menikmati ini. Pada kepulanganku ke California, aku menerima surat dari seorang ahli biokimia, Irwin Stone, yang hadir dalam wawancara tersebut. Ia menulis bahwa jika aku mengikuti rekomendasinya untuk meminum 3.000 miligram vitamin C, aku tidak hanya hidup 25 tahun lebih lama, namun bahkan lebih lama dari itu.” Stone, yang memanggil dirinya sendiri sebagai Dr. Stone, telah menghabiskan dua tahun untuk mempelajari kimia di perguruan tinggi. Tak lama kemudian, dia menerima gelar kehormatan dari Los Angeles College of Chiropractic dan title “PhD” dari Universitas Donsbach; sebuah sekolah korespondensi yang tidak terakreditasi di California Selatan.


Medali Carl Neuberg

Pauling mengikuti nasehat Stone. “Aku mulai merasa lebih hidup dan lebih sehat,” ia berkata. “Khususnya, pilek parah yang biasa kuidap setiap beberapa kali setahun di seluruh hidupku telah hilang. Setelah beberapa tahun, aku meningkatkan dosis vitamin C-ku menjadi sepuluh kali sehari, lalu dua puluh kali, lalu tiga tiga ratus kali dari batas: sekarang 18,000 miligram sehari.”

Sejak hari itu, orang-orang akan mengingat Linus Pauling untuk satu hal: Vitamin C.

Pada 1970, Pauling menerbitkan Vitamin C dan Pilek (Vitamin C and the Common Cold), mendesak publik untuk meminum 3,000 miligram vitamin C setiap hari (sekitar 50 kali lebih tinggi dari yang diperbolehkan per hari). Pauling percaya bahwa pilek akan segera menjadi sejarah. “Akan butuh puluhan tahun untuk memusnahkan pilek untuk selama-lamanya,” ia menulis, “Namun itu bisa terjadi, aku percaya, dikontrol oleh Amerika Serikat dan beberapa negara lain dalam beberapa tahun ke depan. Aku berharap banyak untuk melihat langkah menuju dunia yang lebih baik ini.” Buku Pauling kemudian menjadi laris secara instan. Versi paperback-nya dicetak pada 1971 dan 1973, dan edisi tambahannya Vitamin C, Pilek dan Flu (Vitamin C, the Common Cold, and the Flu), diterbitkan tiga tahun kemudian, menjanjikan untuk menghalau wabah flu babi pandemik yang sudah diprediksi. Penjualan vitamin C meningkat menjadi dua kali lipat, tiga kali lipat, dan empat kali lipat. Apotek tidak dapat memenuhi permintaan. Pada pertengahan 1970-an, 50 juta rakyat Amerika mengikuti nasehat Pauling. Para pembuat vitamin menyebutnya “Efek Linus Pauling”

Para ilmuwan tidak begitu antusias. Pada 14 Desember 1942, sekitar tiga puluh tahun sebelum Pauling menerbitkan buku pertamanya, Donald Cowan, Harold Diehl, dan Abe Baker, dari Universitas Minnesota, menerbitkan sebuah studi di Journal of the American Medical Association berjudul Vitamin untuk Mencegah Pilek (Vitamins for the Prevention of Cold). Penulisnya menyimpulkan, “Di bawah penelitian terkendali ini, 980 penderita pilek telah diberi perlakuan….tidak ada indikasi bahwa vitamin C saja, antihistamin saja, atau vitamin C dan antihistamin memiliki efek penting pada durasi dan tingkat keparahan infeks tenggorokan bagian atas.”

Penelitian lain mengikuti. Setelah pernyataan yang dikeluarkan oleh Pauling, para peneliti dari Universitas Maryland memberikan 3,000 miligram vitamin C setiap hari selama tiga minggu kepada 11 sukarelawan dan pil gula (pengganti / placebo) pada sepuluh lainnya. Kemudian mereka menginfeksi para sukarelawan tersebut dengan virus pilek. Semua mendapat gejala pilek yang sama dalam waktu yang sama. Di Universitas Toronto, para peneliti memberikan vitamin C atau placebo kepada 3.500 sukarelawan. Lagi-lagi, vitamin C tidak mencegah pilek, bahkan pada mereka yang mendapat asupan 2.000 miligram per hari. Pada 2002, para peneliti di Belanda memberikan multivitamin atau placebo kepada 600 orang sukarelawan. Lagi-lagi, tidak ada perbedaan. Paling tidak ada 15 penelitian telah memperlihatkan bahwa vitamin C tidak menyembuhkan pilek. Sebagai konsekuensinya, FDA, Akademi Kesehatan Anak Amerika, Asosiasi Medikal Amerika, Asosiasi Dietik Amerika, Pusat Nutrisi Manusia di Sekolah Kesehatan Umum Johns Hopkins Bloomberg, ataupun Departemen Kesehatan tidak merekomendasikan suplemen vitamin C untuk mencegah atau mengobati pilek.


Virus influenza

Meskipun penelitian satu ke penelitian lain membuktikan bahwa dirinya salah, Pauling tidak mau mempercayainya, ia terus menyebutkan vitamin C di pidato-pidato, artikel populer, dan buku-buku. Ketika dia muncul di media-media dengan gejala pilek yang jelas, dia mengaku bahwa dia menderita alergi.

Kemudian Linus Pauling melangkah lebih jauh. Dia mengklaim bahwa vitamin C tidak saja mencegah pilek; namun juga menyembuhkan kanker.

Pada 1971, Pauling menerima surat dari Ewan Cameron, seorang ahli bedah Skotlandia dari sebuah rumah sakit kecil di sekitar Glasgow. Cameron menulis bahwa pasien kanker yang diberi 10 gram vitamin C setiap hari memiliki kemajuan yang lebih baik dibanding yang tidak diberi vitamin C. Pauling sangat bersemangat. Dia memutuskan untuk menerbitkan penemuan Cameron di Proceeding of the National Academy of Sciences. Pauling mengasumsikan bahwa sebagai anggota akademi dia dapat menerbitkan tulisan di PNAS kapan pun dia mau; dalam lebih dari setengah abad, hanya tiga tulisan dari anggota akademi yang ditolak. Tulisan Pauling ditolak, memperburuk reputasinya diantara para ilmuwan. Tak lama, tulisannya diterbitkan di Oncology, jurnal untuk spesialis kanker. Ketika para peneliti mengevaluasi data dalam studi tersebut, kesalahannya terlihat semakin jelas; penderita kanker yang diberi vitamin C memang pada dasarnya lebih sehat di awal terapi, maka hasil mereka tentu lebih baik. Setelah itu, para ilmuwan tidak lagi menganggap klaim Pauling tentang vitamin dengan serius.


Sel kanker

Namun Linus Pauling masih memiliki pengaruh pada media. Pada 1971, dia mengumumkan bahwa vitamin C dapat menurunkan kemungkinan kematian oleh kanker sebanyak 10%. Pada 1977, dia bahkan menambahkan lebih jauh. “Perkiraan saya sekarang adalah bahwa penurunan sebanyak 75% dapat dicapai dengan vitamin C saja,” ia menulis, “Dan penurunan yang lebih banyak lagi dengan penggunaan suplemen nutrisi yang lain.” Dengan kanker yang terkendali, Pauling memperkirakan, rakyat Amerika akan hidup lebih lama, hidup lebih sehat. “Kemungkinan hidup bisa mencapai usia 100 hingga 110 tahun,” dia berkata, “Dan seiring berjalannya waktu, akan meningkat menjadi 150 tahun.”
Para penderita kanker pun kemudian memiliki alasan untuk terus berharap. Dengan keinginan untuk berpartisipasi dalam keajaiban Pauling, mereka mendesak dokter mereka untuk memberi asupan vitamin C dalam dosis banyak. “Dalam tujuh hingga delapan tahun, kami mendapat banyak permintaan dari keluarga untuk menggunakan vitamin C dosis tinggi,” kenang John Marris, kepala onkologi dan direktur Pusat Penelitian Kanker bagi Anak di Rumah Sakit Anak Philadelphia. “Kami saat itu kesulitan. Mereka akan mengatakan, ‘Dokter, apakah kau mendapat Penghargaan Nobel?’”
Merasa terpojok, para peneliti kanker memutuskan untuk menguji teori Pauling. Charles Moertel dari Mayo Clinic, menguji 150 penderita kanker: setengah dari mereka menerima sepuluh gram vitamin C per hari sedangkan setengahnya lagi tidak. Grup yang menerima vitamin C tidak memberikan perbedaan dalam gejala dan kematian. Moertel menyimpulkan, “Kami tidak dapat menemukan keuntungan terapeutik dari vitamin C dosis tinggi.” Pauling marah besar. Dia menulis surat kemarahan kepada New England Journal of Medicine, yang menerbitkan penelitian tersebut, menyatakan bahwa Moertel telah kehilangan inti dari penelitian tersebut. Tentu saja vitamin C tidak akan bekerja: Moertel memberikannya kepada pasien yang telah mendapat kemoterapi. Pauling mengklaim bahwa vitamin C hanya bekerja jika penderita kanker belum mendapat kemoterapi.

Merasa dipojokkan, Moertel melakukan penelitian kedua; hasilnya tetap sama. Moertel menyimpulkan, “Diantara pasien dengan penyakit terukur, tidak ada yang mendapat kemajuan objektif. Dapat disimpulkan bahwa terapi vitamin C dosis tinggi tidak efektif untuk melawan penyakit berbahaya dengan atau tanpa mengalami kemoterapi.” Untuk banyak dokter, ini adalah keputusan terakhir. Namun tidak untuk Linus Pauling. Dia tidak ingin disalahkan. Cameron memperhatikan, “Saya tidak pernah melihatnya begitu marah. Dia menganggap semua ini sebagai serangan terhadap integritas dirinya.” Pauling berpikir bahwa penelitian Moertel adalah sebuah kasus “penipuan dan penggambaran keliru yang disengaja.” Dia berkonsultasi pada pengacara untuk menuntut Moertel, namun mereka membujuknya untuk tidak melakukannya. Serangkaian penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa vitamin C tidak menyembuhkan kanker.

Pauling belum selesai. Selanjutnya dia membuat klaim bahwa vitamin C, jika diminum dengan vitamin A dalam dosis sangat besar (25.000 IU), vitamin E (400-1.600 IU), selenium (sebuah elemen dasar) dan beta-karoten (sebuah pendahulu untuk vitamin A), tidak hanya dapat mencegah pilek dan menyembuhkan kanker; juga secara teoritis dapat menyembuhkan semua penyakit yang dikenal manusia. Pauling menyatakan bahwa vitamin dan suplemen dapat menyembuhkan penyakit hati, penyakit mental, pneumonia, hepatitis, polio, TBC, campak, gondok, cacar, meningitis, penyakit ruam saraf, penyakit demam melepuh, sakit tenggorokan, sariawan, kutil, penuaan, asma, athritis, diabetes, retina lepas, stroke, bisul, syok, demam tipus, tetanus, disentri, batuk kering, lepra, demam jerami, luka bakar, retak tulang, luka, panas dalam, mabuk ketinggian, keracunan radiasi, glukoma, gagal ginjal, influenza, penyakit kandung kemih, stres, rabies, dan gigitan ular. Ketika virus AIDS masuk ke Amerika Serikat pada 1970-an, Pauling mengklaim bahwa vitamin dapat juga menyembuhkannya.


Sumber beta karoten yang kaya Vitamin A

Pada 6 April 1992, sampul majalah Time—penuh gambar pil dan kapsul warna-warni—menuliskan: “Kekuatan Vitamin yang Sebenarnya: Penelitian baru memperlihatkan bahwa vitamin dapat membantu melawan kanker, penyakit hati, dan penuaan.” Artikel tersebut, ditulis oleh Anastasia Toufexis, menggemakan penemuan salah Pauling, menyanggah dugaan buruk terhadap keajaiban megavitamin. “Semakin banyak peneliti mulai mencurigai bahwa pemahaman medis tradisional tentang vitamin dan mineral masihlah sempit,“ tulis Toufexis. “Vitamin—dalam dosis yang lebih tinggi daripada yang direkomendasikan—dapat melindungi kita dari penyakit cacat lahir, katarak hingga penyakit hati dan kanker. Artikel tersebut bahkan semakin provokatif dengan efek memperlambat penuaan.” Toufexis dengan gembira menyatakan bahwa “Raksasa farmasi Hoffman-La Roche sangat terpikat oleh beta karoten sehingga ia ingin membuka pabrik Freeport, Texas, tahun depan yang akan menghasilkan 350 ton nutrisi stiap tahun, atau cukup untuk suplai harian 6 miligram kapsul untuk setiap manusia dewasa di Amerika.

Asosiasi Nutrisi Makanan Nasional (The National Nutritional Foods Association (NNFA)), grup pelobi untuk para pembuat vitamin, tidak dapat mempercayai keberuntungan mereka, menyebut artikel Time sebagai “oasis di tengah industri”. Sebagai usaha mereka untuk mengenyahkan ‘gangguan’ dari Food and Drugs Administration (FDA). NNFA menyebarkan banyak salinan dari majalah tersebut untuk setiap anggota Kongres. Berbicara pada Pertemuan Dagang NNFA pada 1992, Toufexis mengatakan, “Dalam 15 tahun di Time, saya telah menulis banyak tentang kesehatan. Namun saya belum pernah melihat begitu banyak respon seperti yang didapatkan vitamin. Ia menyapu bersih rak penjualan dan banyak permintaan untuk cetak ulang. Namun tidak ada lagi cetak ulangnya. ‘Vitamin’ adalah edisi yang nomor satu dalam penjualan tahun ini.”

Meskipun banyak penelitian tidak mendukungnya, Pauling percaya bahwa vitamin dan suplemen memiliki satu hal yang membuat mereka dapat menyembuhkan segalanya, sebuah hal yang disebut-sebut terdapat dalam semua hal mulai dari kecap hingga jus delima dan menyaingi kata-kata semacam natural dan organik untuk mendongkrak penjualan: antioksidan.
Antioksidasi melawan oksidasi telah menjadi kontes antara yang baik dan yang jahat. Peperangan tersebut terjadi organ seluler yang disebut mitokondria, tempat tubuh kita mengubah makanan menjadi tenaga, sebuah proses yang memerlukan oksigen sehingga disebut oksidasi. Konsekuensi dari oksidasi adalah dihasilkannya elektron yang dapat menghilangkan zat tertentu, yang biasa disebut radikal bebas (jahat). Radikal bebas dapat merusak DNA, membran sel, dan pembuluh arteri; mereka telah dikaitkan dengan penuaan, kanker, dan penyakit hati. Untuk menetralkan radikal bebas, tubuh mengeluarkan aktioksidannya sendiri (baik). Antioksidan dapat ditemukan dalam buah dan sayuran—khususnya, selenium, beta karoten, dan vitamin A, C, dan E. Penelitian telah membuktikan bahwa orang yang makan lebih banyak buah dan sayuran memiliki kemungkinan lebih rendah untuk mengidap kanker, penyakit hati dan hidup lebih lama. Logikanya jelas: jika buah dan sayur mengandung antioksidan—dan orang yang makan banyak buah dan sayur lebih sehat—maka orang yang meminum suplemen antioksidan seharusnya juga lebih sehat. Pada kenyatannya, mereka justru kurang sehat.

Quote:

sel DNA

Pada 1994, Institut Kanker Nasional, berkolaborasi dengan Institut Kesehatan Umum Nasional Finlandia, mempelajari 29.000 lelaki Finlandia, semuanya telah lama menjadi perokok lebih dari lima puluh tahun. Kelompok ini dipilih karena mereka memiliki resiko yang lebih tinggi untuk kanker dan penyakit hati. Para subjek penelitian diberi vitamin E, beta-karoten, keduanya, atau tidak keduanya. Hasilnya jelas: mereka yang meminum vitamin dan suplemen justru kebih banyak kemungkinan untuk mati karena kanker paru-paru atau penyakit hati daripada mereka yang tidak meminum—kebalikan dari harapan peneliti.

Pada 1996, peneliti dari Pusat Penelitian Kanker Fred Hutchinson di Seattle, mempelajari 18.000 orang yang memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mendapat kanker paru-paru, karena mereka terekspos pada asbestos. Lagi-lagi, subjek penelitian diberi vitamin A, beta-karoten, keduanya, atau tidak keduanya. Para peneliti menghentikan penelitian dengan segera ketika mereka menyadari bahwa orang yang meminum vitamin dan suplemen menderita kanker dan penyakit hati masing-masing rata-rata 28% dan 17% lebih tinggi ketimbang yang tidak meminum.

Pada 2004, peneliti dari Universitas Copenhagen meninjau ulang 14 percobaan acak yang melibatkan 170.000 orang yang meminum vitamin A, C, E, dan beta-karoten untuk melihat jika antioksidan dapat mencegah kanker usus. Lagi-lagi, antioksidan tidak sesuai harapan. Para penulisnya menyimpulkan, “Kami tidak dapat menemukan bukti bahwa suplemen antioksidan dapat mencegah kanker usus dan perut; justru kebalikannya, mereka kemuungkinan meningkatkan angka kematian.” Para peneliti yang sama kemudian melakukan evaluasi kepada tujuh penelitian terbaik, mereka menemukan bahwa rata-rata kematian meningkat 6 % lebih tinggi bagi mereka yang meminum vitamin.

Pada 2005, para peneliti dari Sekolah Kedokteran John Hopkins memeriksa 19 penelitian yang melibatkan lebih dari 136.000 orang dan menemukan peningkatan resiko pada kematian yang berkaitan dengan suplemen vitamin E. Dr. Benjamin Caballero, direktur Pusat Nutrisi Manusia di Sekolah Kesehatan Umum John Hopkins Bloomberg, menyatakan, “Hal ini menegaskan hasil penelitian sebelumnya. Bukti keberhasilan suplemen vitamin, terutama vitamin E, tidak ada. Ide bahwa vitamin tidak dapat merugikan bagi manusia tidaklah sederhana.” Di tahun yang sama, sebuah studi diterbitkan di Journal of the American Medical Association meneliti lebih dari 9.000 orang yang meminum vitamin E dosis tinggi untuk mencegah kanker; mereka yang meminum vitamin memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengidap kegagalan hati daripada mereka yang tidak meminum.


Vitamin E dalam bentuk soft capsule

Pada 2007, para peneliti dari Institut Kanker Nasional memeriksa 11.000 pria yang meminum dan tidak meminum multivitamin. Mereka yang meminum multivitamin memiliki kemungkinan dua kali lebih banyak untuk mati karena kanker prostat. Pada 2008, pemeriksaan terhadap semua penelitian yang melibatkan 230.000 orang yang mendapat atau tidak mendapat suplemen antioksidan menemukan bahwa vitamin meningkatkan resiko kanker dan penyakit hati.

Pada 10 Oktober 2011, peneliti dari Universitas Minnesota meneliti 39.000 wanita dalam usia yang lebih tua dan menemukan bahwa mereka yang meminum suplemen multivitamin, magnesium, zinc, copper dan besi memiliki kemungkinan kematian yang lebih tinggi ketimbang yang tidak. Mereka menyimpulkan, “Berdasarkan bukti yang ada, kami tidak dapat membenarkan tentang penyebaran dan penggunaan suplemen diet.” Dua hari kemudian, pada 12 Oktober, peneliti dari Klinik Cleveland menerbitkan hasil penelitian terhadap 36.000 pria yang meminum vitamin E, selenium, keduanya, atau tidak keduanya. Mereka menemukan bahwa kelompok yang mendapat vitamin E memiliki 17% resiko lebih tinggi mengidap kanker prostat. Sebagai respon terhadap studi tersebut, Steven Nissen, ketua kardiologi di Klinik Cleveland , mengatakan, “Konsep multivitamin dijual kepada bangsa Amerika oleh industri nutrisi makanan untuk mendapatkan laba. Tidak pernah ada data terbukti yang mendukung penggunannya.” Pada 25 Oktober, sebuah headline terpampang di Journal Wall Street, “Apakah Ini Akhir dari Vitamin?”. Penelitian-penelitian yang telah dilakukan tidak menurunkan penjualan. Pada 2010, industri vitamin mendapat pendapatan kotor USD 28 milyar, lebih tinggi 4,4% dibanding tahun sebelumnya. “Yang harus dilakukan dengan penelitian-penelitian ini adalah dengan menjalaninya saja,” kata Joseph Fortunato, eksekutif kepala di Pusat Nutrisi Umum. “Kami tidak melihat akibatnya dalam bisnis kami.”

Bagaimana mungkin ini terjadi? Dengan diketahui bahwa radikal bebas sudah jelas merusak sel—dan diketahui bahwa orang yang makanannya dapat menetralkan radikan bebas lebih sehat—mengapa penelitian terhadap suplemen antioksidan memperlihatkan bahwa mereka berbahaya? Penjelasan yang paling mungkin adalah bahwa radikal bebas tidak sejahat yang dikemukakan. Meskipun sudah jelas bahwa radikal bebas dapat merusak DNA and membran sel, hal itu tidaklah selalu buruk. Manusia membutuhkan radikal bebas untuk membunuh bakteri dan menghilangkan sel kanker baru. Namun ketika orang mengambil terlalu banyak dosis antioksidan, keseimbangan antara produksi dan pemusnahan radikal bebas menjadi timpang yang menyebabkan kondisi yang tidak lazim sehingga sistem kekebalan tubuh menjadi tidak efektif membunuh penyusup yang berbahaya.

Para peneliti menyebutnya “Paradoks Antioksidan.” Apa pun alasannya, datanya sudah jelas: vitamin dan suplemen dosis tinggi meningkatkan resiko penyakit hati dan kanker; untuk alasan tersebut, tidak ada organisasi nasional maupun internasional yang bertanggungjawab atas kesehatan publik yang merekomendasikannya.


Efek radikal bebas

Pada Mei 1980, pada sebuah interview di Universitas Oregon, Linus Pauling ditanya, “Apakah vitamin C memiliki efek samping jika digunakan dalam waktu lama dengan dosis, mari kita sebut saja, beberapa gram?” Jawaban Pauling cepat dan tegas. “Tidak,” jawabnya.
Tujuh bulan kemudian, istrinya meninggal dikarenakan kanker perut. Pada 1994, Linus Pauling meninggal karena kanker prostat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s