Kebiasaan vs Ketagihan. Alasan Kenapa Manusia Menjadi Pecandu

{source name="Suka makan" url="www.aestheticshub.com"} Doyan atau gemar?

Doyan atau gemar?

Sesuatu yang kadang bikin bingung. Tapi setelah riset kecil-kecilan, dapat diketahui bahwa kebiasaan adalah sebuah pilihan. Kamu bisa berhenti kapan saja. Sementara jika udah ketagihan alias fase adiksi, ada pengaruh secara psikologis. Seseorang gak bisa berfungsi dengan normal jika gak bertemu sesuatu yang jadi objek candunya. Yang satu punya kontrol, yang satunya lagi tanpa kontrol.

Jadi kamu bisa mengukur sendiri sedang berada di fase mana. Jika tanpa rokok kamu bisa berfungsi dengan benar layaknya temen kamu yang gak ngerokok, berarti otakmu masih berkuasa penuh atas rokok. Namun jika sebaliknya, ketika menghisap rokok kamu merasa “hidup” dan bisa berpikir maksimal, maka berhati-hatilah. Mungkin kamu udah memasuki level candu. Namun persoalan candu gak cuma sampai di sini. Ada alasan di balik terjadinya semua hal, termasuk adiksi. Oleh karena itulah kita beranjak ke pertanyaan berikutnya.

Kenapa Manusia Mengalami Adiksi?

{source name="Pecandu" url="www.moeggesukkel.co.za"} Pusing tujuh keliling

Pusing tujuh keliling

Percaya gak percaya, menurut jurnal adiksi Amerika Serikat pada 2011, para ilmuwan belom tau secara pasti dan faktual apa aja penyebab adiksi terhadap zat-zat memabukkan, sebuah penyakit kompleks yang memengaruhi fungsi otak, psikologis, dan spiritual diri. Namun tetap ada dua faktor utama dari sejumlah kombinasi yaitu:

1. Biologis

Besar kecil adiksi tergantung gen yang ada di dalam dirimu. Bagi anak yang orang tuanya kecanduan alkohol, ada kemungkinan empat kali lipat bahwa doi bakal jadi alkoholik ketimbang anak lain. Faktor genetik membuat doi akan lebih rentan mengalami ketagihan.

2. Lingkungan

Jika di sekolahmu banyak yang “make” zat-zat memabukkan, kemungkinan kamu bakal terpengaruh bisa dibilang cukup besar. Atau misalnya kamu jadi ikutan minum alkohol karena temen-temen di kantor pada suka nongkrong dan minum. Supaya menjalin hubungan yang lebih dekat dengan mereka, maka kamu pun ikutan minum. Orang Rusia minum vodka bukan karena mereka semata-mata suka, tapi karena di sana dingin banget. Sebagai upaya bertahan hidup, maka alkohol adalah penghangat yang dibutuhkan orang-orang di sana.

Ada pun faktor-faktor pendukung yang gak bisa dikesampingkan gitu aja seperti stres (banyak pikiran), trauma masa kecil, kekerasan fisik, kualitas hidup, sampai status sosial dan ekonomi. Tiap orang punya kombinasi silangnya masing-masing sehingga sampai ke titik menjadi pecandu.

Otak Pecandu

{source name="Otak pecandu" url="www.yourfamilydoctor.com.au"} Beda-beda kan

Beda-beda kan

Mumpung lagi ngomongin soal candu, jadi sekalian menelaah aja apa yang terjadi pada otaknya, sesuatu yang jadi kelebihan manusia sebagai makhluk hidup di alam semesta.

Nah, tatkala kamu mengonsumsi sebuah zat memabukkan, terjadi semacam euforia dan kebahagiaan yang seperti gak terhingga. Lalu ketika kamu melanjutkannya, maka otak kamu bakal berubah dengan sendirinya. Singkatnya, otak seorang pecandu bakal terus berubah seiring konsumsi yang semakin besar sehingga menolak dorongan untuk gak “make” akan amat sangat sulit.

Di otak, ada yang namanya neurotransmiter yang merupakan penyampai reaksi kimia di antara sel-sel otak. Dalam perubahannya, mereka ini yang nantinya bakal memancing sel saraf untuk ngirimin pesan-pesan abnormal. Hasil akhir dari aktivitas aneh otak ini adalah seorang pecandu butuh lebih banyak zat untuk mencapai euforia yang dirasakan sebelumnya. Otaknya gak berfungsi seperti biasa. Hal-hal seperti bikin keputusan, belajar, ingatan, dan mengontrol tingkah laku seakan rusak. Ketika zat favorit mereka gak ada, seorang pecandu bakal mengusahakan banget supaya mereka merasa kembali “normal.”

Konklusi

{source name="Sejak dulu kala" url="en.wikipedia.org"} Pecandu opium di Cina

Pecandu opium di Cina

Jadi apakah hal-hal yang dikonsumsi secara berlebihan bisa disebut adiksi? Ada baiknya jangan semudah itu menyebut kebiasaan unikmu sebagai adiksi. Mencandu sesuatu adalah soal hidup dan mati.

Terlalu banyak menonton serial televisi, berolahraga, makan cokelat, sampai membaca komik memberikanmu waktu untuk bersenang-senang dan kontrol atas kehidupan. Sesuatu yang udah menjadi pencarian manusia sejak zaman dahulu kala. Bayangkan manusia purba yang harus berkali-kali mencoba dedaunan yang enak dikonsumsi hingga mereka nemuin nikotin dan ganja adalah benda hisap-able yang sangat menyenangkan.

Bersenang-senang pun dapat dipandang sebagai penolakan diri atas kehidupan yang gak dalam kontrol mereka. Harus ikut aturan ini, harus mematuhi perintah itu. Bersenang-senang dengan “mainan” masing-masing adalah salah satu cara melarikan diri dari jeratan hidup yang mungkin seringkali menyiksa.

Namun jika kebiasaanmu kala bersenang-senang udah menyerang sisi psikologis, kamu gak bisa hidup tanpanya, dia adalah pusat kehidupanmu, dirimu gak berfungsi dengan benar jika kehadirannya tiada, maka kamu udah tau kan apa yang terjadi pada dirimu?

Ada yang mau berbagi pengalaman tentang adiksi? Atau ada yang kurang setuju dan mau nambahin tentang penjelasan di atas? Jangan ragu, jangan sungkan. Langsung aja melipir ke kolom komentar ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s