Pemimpin Kristen yang Rendah Hati

Setelah sukses luar biasa dengan bukunya yang pertama, “Built to Last”, peneliti manajemen Jim Collins kembali menggemparkan dunia bisnis dengan bukunya, “Good to Great”. Jika sebagai pemimpin, Anda hanya memiliki waktu untuk membaca dua buku bisnis, bacalah kedua buku ini. Buku pertama berfokus pada pertanyaan: apa rahasia yang dimiliki sebelas perusahaan global dari berbagai industri untuk bertahan selama puluhan dan ratusan tahun, bahkan menjadi nomor satu di dunia? Sedangkan buku kedua didasari oleh pertanyaan: apa rahasia transformasi perusahaan yang “cukup baik” menjadi perusahaan yang “sangat hebat”? Itulah sebabnya mengapa Collins menganggap bahwa seharusnya buku kedua menjadi “prequel”, bukan “sequel” dari buku pertama.

Ada beberapa hal yang menarik dari hasil penelitian Collins dan dua puluh orang asistennya selama lima tahun dengan metodologi ilmiah yang sangat solid, yang menjadi bahan dasar buku “Good to Great”. Dari awal, Collins sudah berkali-kali berpesan kepada tim risetnya untuk tidak memedulikan faktor pemimpin dalam mencari kunci sukses perusahaan. Ia sadar bahwa kepemimpinan memang cenderung diromantisir, yaitu kalau perusahaan sukses, itu pasti karena pemimpinnya, demikian juga kalau gagal.

Namun, setiap kali menganalisa tumpukan data-data riset yang menggunung, mau tidak mau mereka menemukan bahwa kepemimpinan adalah faktor yang krusial dalam menentukan suksesnya perusahaan. Namun begitu, temuan berikut ini lebih menarik.

Semua perusahaan yang mereka teliti, yang telah mengalami terobosan transformatif dalam kinerja dan mampu mempertahankannya secara terus-menerus selama puluhan, bahkan ratusan tahun, ternyata memiliki pemimpin dengan dua karakteristik utama: “personal humility” dan “professional will”. Kombinasi kedua karakteristik ini menjadi paradoks.

Pemimpin yang disebut Collins sebagai “Level 5 Leaders” ini adalah para pemimpin yang rendah hati, tidak pernah menyombongkan diri, bahkan cenderung pemalu. Mereka menunaikan tugas dengan diam-diam tanpa berupaya mencari perhatian dan pujian publik. Apabila mereka berhasil, mereka selalu berusaha untuk memberi kredit kepada orang lain atau hal lain di luar diri mereka. Apabila ada kegagalan, mereka bertanggung jawab secara pribadi dan tidak mencari kambing hitam. Ambisi mereka adalah untuk kelanggengan perusahaan, bukan penggemukan dan kepentingan diri.

Ketika saya membaca buku Jim Collins, mau tak mau saya tertegun dengan temuan riset tersebut. Betapa tidak, pemimpin bisnis sekuler mengadopsi kerendahan hati yang adalah ide alkitabiah (meski mereka tidak menyadari ide tersebut berasal dari Alkitab), sementara banyak pemimpin Kristen malah meninggalkannya.

Namun, hal itu tidak berarti Collins mengerti dengan tuntas apa arti kerendahan hati karena konsep Alkitab tentang kerendahan hati sangat erat terkait dengan Allah Tritunggal, yaitu kerendahan hati yang didasari oleh Allah Bapa, dicontohkan oleh Allah Anak dan dimungkinkan oleh Allah Roh Kudus.

Mengerti Kerendahan Hati

Apa arti sesungguhnya dari kerendahan hati? Kerendahan hati tidak identik dengan inferioritas atau rasa minder. Seorang pengkhotbah besar, Charles Spurgeon, mengatakan bahwa kerendahan hati adalah “to make a right estimate of oneself.” Kerendahan hati adalah mengerti posisi diri kita dengan tepat di hadapan Tuhan.

Seorang yang rendah hati bukanlah seorang yang mengatakan bahwa ia tidak memiliki kemampuan apa pun dan tidak mampu melakukan segala sesuatu (karena itu berarti menghina Tuhan, pencipta-Nya). Seorang yang rendah hati adalah seorang yang mengatakan bahwa semua kemampuannya berasal dari Tuhan dan bahwa ia mampu melakukan sesuatu karena Tuhan yang memampukannya. Tanpa Tuhan, ia sama sekali bukan apa-apa.

Buku klasik karya Andrew Murray yang berjudul “Humility” memberi definisi rendah hati sebagai berikut. “Humility is the sense of entire nothingness, which comes when we see how truly God is all, and in which we make way for God to be all.” Dengan nada yang sama. Martin Luther dengan lugas berkata, “God created the world out of nothing, and as long as we are nothing, He can make something out of us.”

Kalau boleh dielaborasi lebih jauh, yang dikatakan Murray dan Luther kira-kira begini. Manusia itu pada dasarnya “nothing”, lalu dalam kondisi “nothing” tersebut, manusia diubah dari “nothing” menjadi “something” oleh Tuhan yang adalah “everything”. Saat manusia mulai berani mencoba sendiri untuk menjadi “something”, Tuhan tidak lagi dapat bekerja melaluinya. Karena Tuhan tidak mungkin mengubahnya dari “something” menjadi “everything”.

Kerendahan hati memang unik, kalau kita mengklaim bahwa kita memilikinya, kita justru tidak memilikinya. Saat kita merasa bahwa kita orang yang rendah hati, saat itulah kita kehilangan kerendahan hati kita. Inilah paradoks kerendahan hati. Kerendahan hati adalah satu-satunya karakteristik yang kita miliki tanpa kita merasa memilikinya.

Adalah relatif lebih mudah bagi kita untuk rendah hati di hadapan Tuhan (khususnya saat kita berada dalam kebaktian Minggu!). Namun, satu-satunya bukti kesungguhan kerendahan hati kita di hadapan Tuhan adalah kerendahan hati kita di hadapan sesama manusia dalam keseharian hidup kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s